Selasa, 10 Mei 2011

Kepemimpinan

Latar Belakang Kepemimpinan
Setelah perencanaan dibuatdan struktor organisasi dibentuk maka langkah selanjutnya adalah pengisian jabatan dalam organisasi. dikalangan para ahli manajemen itu bermacam-macam pendapat mengenai kepemimpinan. Ada yang berpendapat kepemimpinan adalah fungsi leadership, fungsi motivating atau fungsi modeling.
Ada tiga implikasi penting mengenai kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan melibatkan orang lain (bawahan atau pengikut), kualitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin. Kedua, kepemimpinan merupakan pembagian kekuasaan yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin memiliki wewenang untuk mengarahkan beberapa kegiatan anggota kelompok dan sebaliknya bahwa secara tidak langsung bawahan mengarahkan kegiatan pemimpin. Ketiga, kepemimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga memiliki pengaruh. Dengan kata lain pemimpin tidak hanya dapat memberikan instruksi tetapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan instruksi pemimpin.


1. Pengertian Kepemimpinan

Seorang pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan. Kualitas kerja dan tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memiliki peranan kritis dalam membantu anggota kelompok, organisasi, maupun masyarakat dalam mencapai tujuan. Maka muncul suatu pertanyaan : Apa yang membuat seorang pemimpin efektif ? 90% dari mereka yang diajukan pertanyaan tersebut akan menjawab bahwa pemimpin yang efektif itu memiliki sifat-sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan seperti kharisma, orientasi ke depan, optimisme, dll.

Seperti manajemen, kepemimpinan (leadership) telah didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula. Menurut Stoner kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.

Kepemimpinan adalah bagian penting manajemen tetapi tidak sama dengan manajemen. Perbedaannya adalah jika kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja dalam mencapai suatu tujuan maka manajemen mencakup kepemimpinan dan juga fungsi-fungsi lain seperti perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan.


2. Pendekatan-pendekatan Studi Kepemimpinan

Semua penelitian dan teori kepemimpinan dapat diklasifikasikan sebagai pendekatan mengenai sifat, perilaku, dan situasional (contingency) dalam study tentang kepemimpinan. Pendekatan pertama memandang kepemimpinan itu tumbuh dari bakat. Pendekatan kedua pemimpin tumbuh dari perilaku. Kedua pendekatan diatas berasumsi bahwa seseorang yang memiliki bakat yang cocok atau memperlihatkan perilaku yang sesuai akan muncul sebagai pemimpin dalam situasi kelompok apapun yang ia masuki. Pendekatan ketiga bersandar pada situasi (situasionair perspective). Kondisilah yang menentukan efektifitas pemimpin. Efektifitas pemimpin bervariasi menurut situasi tugas yang harus diselesaikan, keterampilan dan penghargaan bawahan, lingkungan organisasi dan pengalaman masa lalu. Dalam situasi yang berbeda prestasi seorang pemimpin berbeda pula. Mungkin bisa lebih baik atau lebih buruk. Pendekatan ini memunculkan pendekatan kontingensi yang menentukan efektifitas situasi gaya pemimpin.


3. Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan

Berbagai studi perbandingan sifat-sifat pemimpin dan bukan pemimpin sering ditemukan bahwa seorang pemimpin cenderung lebih cerdas, optimis, dan berani. Namun sering timbul anggapan bahwa jiwa seorang pemimpin sudah ada sejak ia dilahirkan. Dan terkadang mereka beranggapan jiwa kepemimpinan itu diwariskan dari orangtua atau sudah turun-temurun. Namun kenyataannya di negara demokrasi ini seorang pemimpin adalah ia yang memiliki kemampuan dalam menghandle segalanya, semua terjadi karena usahanya. Potensialnya mampu menembus garis keturunan. Seorang pemimpin adalah ia yang memiliki jiwa berani , optimis, cerdas, dan mampu menghadapi segala rintangan.

4. Fungsi-fungsi Kepemimpinan
Agar suatu kegiatan organisasi berjalan dengan efektif, seorang pemimpin harus melaksanakan dua fungsi utama yaitu :
1. Fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (task-related) atau pemecahan masalah. Fungsi ini mencakup pemberian saran dalam penyelesaian masalah ,informasi dan pendapat.
2. Fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok atau anggota (group-maintenance) maupun sosial. Fungsi ini mencakup semua yang dapat memperlancar kegiatan organisasi, persetujuan dengan organisasi lain, penengahan perbedaan pendapat, dll.

5. Gaya-gaya kepemimpinan

para peneliti telah mengidentifikasikan adanya dua gaya kepemimpinan yaitu :
1. Gaya dengan orientasi tugas (task-oriented). Dalam gaya ini pemimpin mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup agar menjamin tugas dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang telah diberikan. Pemimpin dengan gaya ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawannya.
2. Gaya dengan orientasi karyawan (employee-oriented). Dalam gaya ini , pemimpin lebih memotivasi karyawannya daripada mengawasinya. Pemimpin menyemangati karyawannya dalam melaksanakan tugas denga memberikan partisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati antar anggota/karyawan.

6. TEORI X & TEORI Y dari McGREGOR

Strategi kepemimpinan efektih yang menggunakan manajemen partisipatif dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku klasiknya the Human Side of Enterprise. Buku ini emmiliki dampak besar pada para pemimpin. Konsep McGregor yang paling terkenal adalah bahwa strategi kepemimpinan dipengaruhi anggapan-anggapan seorang pemimpin tentang sifat dasar manusia. Terdapat dua anggapan yang saling berlawanan yang dibuat oleh para manajer dalam industri, yaitu :
1. Anggapan teori X
1) Kebanyakan sifat yang paling melekat pada manusia adalah “MALAS” atau tidak menyukai suatu pekerjaan dan akan menghindarinya bila memungkinkan.
2) Karakteristik “malas” memungkinkan manusia harus dipaksa, diawasi, diarahkan atau diancam dengan hukuman agar mereka menjalankan instruksi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
3) Kebanyakan manusia lebih senang diarahkan , ingin menghindari tanggung jawab, ambisinya yang relatif kecil dan menginginkan keamanan/jaminan hidup diatas segalanya.

2. Anggapan Teori Y
1) Penggunaan usaha fisik dan mental dalam bekerja adalah kodrat manusia seperti bermain dan istirahat.
2) Pengawasan dan ancaman hukuman eksternal bukanlah satu-satunya cara untuk mengarahkan usaha pencapaian tujuan. Ia akan melakukan pengendalian dan pengarahan diri untuk mencapai tujuan.
3) Keterikatan pada tujuan merupakan fungsi dari penghargaan yang berhubungan dengan prestasi mereka.
4) Rata-rata manusia dalam kondisi yang layak, belajar tidak hanya untuk menerima tetapi mencari tanggung jawab.
5) Ada kapasitas besar untuk melakukan imajinasi, kecerdikan dan kreatifitas dalam penyelesaian masalah-masalah organisasi yang secara luas tersebar pada seluruh karyawan.
6) Potensi intelektual manusia hanya digunakan sebagian saja dalam kondisi kehidupan industri modern.
Seorang pemimpin yang menganut anggapan teori X akan cenderung menyukai gaya kepemimpinan otokratik, sebaliknya pemimpin yang mengikuti teori Y akan lebih menyukai gaya kepemimpinan partisipatif atau demokratik.

7. KESATUAN KEPEMIMPINAN TANNEMBAUM & SCHMIDT
Sebelum pemimpin/manajer melakukan pilihan gaya kepemimpinan terlebih dahulu harus mempertimbangkan tiga kumpulan kekuatan yaitu :

1) kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam diri manajer yang meliputi :
a. Sistem nilai
b. Kepercayaan terhadap bawahan
c. Perasaan aman dan tidak aman
d. Kecenderungan kepemimpinan sendiri
2) kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam diri bawahan mencakup :
a) Kebutuhan akan kebebasan
b) Efektifitas kelompok
c) Desakan waktu
d) Sifat masalah itu sendiri
3) kekuatan situasi mencakup :
a. Bentuk organisasi
b. Efektifitas kelompok
c. Desakan waktu
d. Sifat dari suatu masalah



8. Teori siklus hidup kepemimpinan
Pendekatan kontigen ini dikemukakan oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif bervariasi menurut kematangan bawahan. Kematangan disini diartikan sebagai keinginan akan pencapaian, kesediaan menerima tanggung jawab dan kemampuan serta pengalaman. Bukan menurut usia atau stabilitas emosi.

Paul Hersey dan Kenneth Blanchard berpendapat bahwa hubungan antara manajer dengan bawahan ada empat tahap, yaitu :
1. Tahap pertama ketika bawahan baru pertama kali masuk organisasi, orientasi tugas yang tinggi adalah sangat tepat dan perlu diperkenalkan aturan dan prosedur organisasi.
2. Tahap kedua masih berorientasi pada tugas tetapi kepercayaan pada bawahan mulai ditingkatkan dan menuju kepada manajemen yang berorientasi pada karyawan.
3. Tahap ketiga kemampuan dan motivasi prestasi sudah mulai kelihatan dan manajer memberikan tanggung jawab yang lebih besar sehingga tidak lagi memerlukn hubungan direktif dengan manajer mereka.


Daftar Pustaka
Handoko, T.Hani, Manajemen, BPFE Yogyakarta, 1986
Reksohadiprodjo, Sukanto & T.Hani Handoko, organisasi Perusahaan :vteori dan perilaku, BPFE-Yogyakarta, 1983
Reksohadiprodjo, Sukanto & T.Hani Handoko &
Siswanto, Kebijaksanaan Perusahaan :konsep dasar dan studi kasus, BPFE-Yogyakarta, 1984
Stoner, James A.F, Management edisi dua, Prentice-hall international, Inc, Englewood Cliffs, New York, 1982

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar